[postlink]
https://popularsvideo.blogspot.com/2014/02/Video-Mahasiswa-Udinus-Talkshow-Energi-Listri-Tanah-Merah.html[/postlink]
http://www.youtube.com/watch?v=EUk9BhIDnPwendofvid
[starttext]
Mahasiswa Udinus - Merupakan kebanggaan tersendiri bagi UDINUS karena hasil penelitian yang dilakukan mahasiswanya mampu menyita perhatian publik dan dunia pertelevisian. Penemuan menarik ini adalah tentang sumber saya listrik terbarukan dari tanah liat, yang sudah pernah diuji atau di review oleh Dikti dan berhasil didanai. Bahkan kemaren sempat dilirik oleh Bapak Dahlan Iskan dan beliau sangat tertarik dengan penemuan yang sangat inovatif ini.
Menurut mereka energi listrik dari tanah liat diperoleh dari unsur SO4 yang terkandung dalam tanah merah. Kenapa bukan tanah lain? tanah hitam misalnya." Tanah merah mengandung unsur SO4 yang lebih tinggi dibandingkan dengan unsur tanah lainnya, " Jawab Mas Catur salah satu dari peneliti tersebut. "Sedangkan untuk memicu terjadinya listrik kita pergunakan lempeng tembaga dan seng, jadi tembaga sebagai kutube Anoda dan Seng sebagai kutub Katoda, sehingga terjadi arus, " Lanjut Mas catur.
Penelitian ini sudah dilakukan cukup lama bahkan sudah sampai 8 bulan lebih, proses awalnya mereka menguji kapasitas daya dari tanah merah. "Kami sudah menguji kapasitas dayanya, dengan memasang lampu pada pot berisi tanah merah yang telah di setting sedemikian rupa sesuai teori, kemudian kita biarkan di ruangan lab, dan ternyata lampu tersebut masih hidup selama kurang dari 8 bulan, tanpa diapa-apakakan, " jawab Bu Sari Ayu Dosen Pembimbing penelitian tersebut. Lalu jika tanah merah tersebut sudah habis daya listriknya, bagaimana cara mengisi ulangnya. "Jika habis daya listriknya, kita tinggal menuangkan air kedalam pot berisi tanah merahnya, " Jawab Bu Sari Ayu dengan tersenyum hehehe.
Rencananya hasil penemuan mereka akan dipasarkan dan diproduksi secara masal. Produk yang dihasilkan akan diikut sertakan dalam ajang Pekan Kreatifitas Mahasiswa yang diadakan dikti lewat kampus UDINUS. PKM yang akan diikuti bernama PKM-K, kreatifitas yang berhubungan denga kewirausahaan. Salah satu produk yang bisa diterapkan untuk penemuan ini adalah sebagai lampu taman, lampu pot bunga dan untuk barang yang minimalis yang sangat membutuhkan listrik yang hemat.
Setelah meneliti tanah merah mereka juga telah meneliti tanah hasil semburan LAPINDO. Tanah lapindo kata mereka itu mengandung unsur SO4 yang 100 kali lebih banyak dari pada tanah merah. Sehingga bisa memungkinkan untuk dijadikan sumber listrik massal. Namun sampai saat ini mereka terus berusaha untuk melakukan peningkatan penelitian pada lumpur tersebut. Jadi selain semburannya itu menimbulkan musibah, mereka juga mencoba untuk meneliti hikmah dibalik musibah lumpur lapindo tersebut. Sesuatu yang mengagumkan bukan hehe (y).
Semoga video Video Mahasiswa Udinus Talkshow Energi Listrik Tanah Merah bisa menginspirasi anda.
[endtext]
[starttext]
Mahasiswa Udinus - Merupakan kebanggaan tersendiri bagi UDINUS karena hasil penelitian yang dilakukan mahasiswanya mampu menyita perhatian publik dan dunia pertelevisian. Penemuan menarik ini adalah tentang sumber saya listrik terbarukan dari tanah liat, yang sudah pernah diuji atau di review oleh Dikti dan berhasil didanai. Bahkan kemaren sempat dilirik oleh Bapak Dahlan Iskan dan beliau sangat tertarik dengan penemuan yang sangat inovatif ini.
Menurut mereka energi listrik dari tanah liat diperoleh dari unsur SO4 yang terkandung dalam tanah merah. Kenapa bukan tanah lain? tanah hitam misalnya." Tanah merah mengandung unsur SO4 yang lebih tinggi dibandingkan dengan unsur tanah lainnya, " Jawab Mas Catur salah satu dari peneliti tersebut. "Sedangkan untuk memicu terjadinya listrik kita pergunakan lempeng tembaga dan seng, jadi tembaga sebagai kutube Anoda dan Seng sebagai kutub Katoda, sehingga terjadi arus, " Lanjut Mas catur.
Penelitian ini sudah dilakukan cukup lama bahkan sudah sampai 8 bulan lebih, proses awalnya mereka menguji kapasitas daya dari tanah merah. "Kami sudah menguji kapasitas dayanya, dengan memasang lampu pada pot berisi tanah merah yang telah di setting sedemikian rupa sesuai teori, kemudian kita biarkan di ruangan lab, dan ternyata lampu tersebut masih hidup selama kurang dari 8 bulan, tanpa diapa-apakakan, " jawab Bu Sari Ayu Dosen Pembimbing penelitian tersebut. Lalu jika tanah merah tersebut sudah habis daya listriknya, bagaimana cara mengisi ulangnya. "Jika habis daya listriknya, kita tinggal menuangkan air kedalam pot berisi tanah merahnya, " Jawab Bu Sari Ayu dengan tersenyum hehehe.
Rencananya hasil penemuan mereka akan dipasarkan dan diproduksi secara masal. Produk yang dihasilkan akan diikut sertakan dalam ajang Pekan Kreatifitas Mahasiswa yang diadakan dikti lewat kampus UDINUS. PKM yang akan diikuti bernama PKM-K, kreatifitas yang berhubungan denga kewirausahaan. Salah satu produk yang bisa diterapkan untuk penemuan ini adalah sebagai lampu taman, lampu pot bunga dan untuk barang yang minimalis yang sangat membutuhkan listrik yang hemat.
Setelah meneliti tanah merah mereka juga telah meneliti tanah hasil semburan LAPINDO. Tanah lapindo kata mereka itu mengandung unsur SO4 yang 100 kali lebih banyak dari pada tanah merah. Sehingga bisa memungkinkan untuk dijadikan sumber listrik massal. Namun sampai saat ini mereka terus berusaha untuk melakukan peningkatan penelitian pada lumpur tersebut. Jadi selain semburannya itu menimbulkan musibah, mereka juga mencoba untuk meneliti hikmah dibalik musibah lumpur lapindo tersebut. Sesuatu yang mengagumkan bukan hehe (y).
Semoga video Video Mahasiswa Udinus Talkshow Energi Listrik Tanah Merah bisa menginspirasi anda.
[endtext]
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.